Menakar Faktor Pengubah Tren Elektabilitas Capres 2019

Sejumlah lembaga survei mencatat elektabilitas Jokowi - Ma’ruf tetap mengungguli pasangan Prabowo - Sandiaga. Namun, mengacu Pilpres 2014, keadaannya masih bisa berubah hingga hari pencoblosan 17 April mendatang karena berbagai faktor.

Nazmi Haddyat Tamara

11/4/2019, 08.00 WIB


Sekitar satu pekan menjelang hari pencoblosan calon presiden dan calon wakil presiden pada 17 April mendatang, persaingan kedua kontestan semakin sengit. Dalam berbagai survei, selisih elektabilitas pasangan petahana dan penantang menipis. Ditambah pula faktor golongan putih (golput) tahun ini yang berpotensi mempengaruhi hasil pemilihan.

Berdasarkan survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia pada Maret 2019, elektabilitas pasangan nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin sebesar 55,4%, sedangkan penantangnya nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mencapai 37,4%.

Meski unggul, tren elektabilitas Jokowi-Ma’ruf terlihat lebih landai dibandingkan penantangnya. Elektabilitas pasangan 01 meningkat 0,5% dari 54,9%, sedangkan 02 naik 2,6% dari sebelumnya 34,8%.

Gambaran identik tercermin dari hasil survei Indo Barometer. Pada Maret 2019 Jokowi-Ma’ruf memiliki elektabilitas 50,8% atau naik 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara Prabowo-Sandi meningkat 3,1% menjadi 32%.

Beberapa hasil survei lain juga menunjukkan tren serupa, Jokowi-Ma’ruf masih unggul dengan selisih lebih 10% dibandingkan Prabowo-Sandi. Sedangkan jumlah pemilih yang belum memutuskan (undecided voters) terlihat berkurang menjadi pada rentang 7-10%.

Yang menarik juga melihat hasil survei Litbang Kompas. Satu bulan sebelum hari pemungutan suara, elektabilitas petahana tak sampai 50%. Selisih elektabilitas keduanya hanya 11,8% dengan rincian 49,2% untuk pasangan 01 dan 37,4% untuk 02. Jika dibandingkan Oktober 2018, elektabilitas Prabowo meningkat, sedangkan Jokowi turun.

Penguasaan Segmen Pemilih

Salah satu faktor lebih dijagokannya petahana dalam setiap survei adalah keunggulan merata di semua segmen pemilih. Hal ini ditunjukkan oleh dua hasil survei terbaru yang dirilis Indo Barometer dan Indikator Politik.

Pasangan 01 hampir menyapu bersih di berbagai kategori pemilih seperti umur, pendidikan, pekerjaan, hingga agama. Namun, masih ada beberapa kelompok yang tingkat keterpilihannya di bawah 50% dan bakal jadi rebutan hingga hari pencoblosan.

Salah satu kategori yang masih diperebutkan adalah kelompok milenial. Survei terbaru Indo Barometer menunjukkan, kedua pasangan bersaing ketat pada segmen pemilih usia di bawah 35 tahun dengan rincian 47,5% untuk 01; 37,8% untuk 02; dan 14,7% sisanya tidak menjawab.

Berdasarkan kategori agama, kedua pasangan saling memperebutkan suara masyarakat muslim. Elektabilitas kedua pasangan terpaut tipis. Indikator Politik mencatat elektabilitas pasangan 01 sebesar 50,9% dan 02 sebesar 41,8%.

Tak jauh berbeda, Indo Barometer juga mencatatkan 46,6% untuk Jokowi-Ma’ruf dan 35,5% untuk Prabowo-Sandi.

Pada kalangan non-muslim, kedua survei terbaru menunjukkan pasangan 01 unggul telak dibanding 02. Indo Barometer mencatat 83,4% berbanding 16,7% dan Indikator Politik menyebut 88,9% berbanding 7,7%.

Mengulang Tren 2014

Jika melongok ke belakang, kondisi menjelang hari pencoblosan pada tahun 2014 tak jauh berbeda. Jokowi yang saat itu berpasangan dengan Jusuf Kalla sempat menjalani tren penurunan. Di sisi lain, Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Radjasa membukukan elektabilitas yang terus meningkat.

Pada Juni 2014 (sebulan sebelum hari pencoblosan), survei Indo Barometer mencatat elektabiitas Jokowi 46% sedangkan Prabowo mencapai 42,6%. Tak jauh dari angka tersebut, Charta Politika juga menyebut elektabilitas Jokowi 49,2% dan Prabowo 45,1% pada April 2014.

Hasil akhir menunjukkan, Jokowi mampu memenangkan kontestasi dengan selisih tipis 6,3%. Perolehan suara Jokowi-JK mencapai 53,15% sedangkan Prabowo-Hatta 46,85% suara.

Jadi, dengan selisih yang tipis pada survei terakhir, waktu kampanye yang tersisa masih bisa memberikan efek elektoral pada kedua pasangan. Contoh terdekat terjadi pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta tahun 2017.

Saat itu, beberapa lembaga survei merilis elektabilitas pasangan calon gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saifullah Yusuf unggul tipis dibanding Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada beberapa pekan sebelum pencoblosan.  Namun, hasil akhir menunjukkan Anies-Sandi meraih 57,95%, mengungguli Ahok-Djarot yang hanya 42,05% suara.

Hal ini menunjukkan periode akhir menjelang hari pencoblosan masih berpotensi menaikkan elektoral pasangan calon. Seperti pada Pilgub Jawa Barat dan Jawa Tengah, meski tidak mengubah pemenang, terjadi peningkatan elektabilitas yang signifikan pada salah satu calon dibandingkan hasil survei terakhir.

Tidak adanya calon yang menembus level aman elektabilitas di angka 60%, menyebabkan hasil akhir sulit diprediksi dan masih sangat mungkin berubah dari survei terakhir.  Alhasil, pada rematch Jokowi-Prabowo di 2019, pemenangnya nanti diperkirakan hanya unggul tipis dari lawannya.

Potensi Tinggi Golput

Faktor lain yang dapat memunculkan “kejutan” pada hasil akhir Pilpres 2019 adalah partisipasi pemilih. Peneliti Indo Barometer Hadi Suprapto menyatakan, ancaman yang cukup serius untuk membuat hasil berubah adalah tingginya angka golput.

Hasil survei terakhir Indo Barometer mencatat, pendukung pasangan Prabowo-Sandi cenderung lebih solid. Hal itu berbanding terbalik dengan pendukung Jokowi-Ma'ruf yang cenderung masih bingung dan belum solid memutuskan pilihan.

Kampanye Jokowi | ANTARA FOTO/Feny Selly

Kampanye Prabowo | ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Indo Barometer menyebut, kelompok ini memiliki kemungkinan tinggi untuk menjadi golput. "Kalau golput itu yang dirugikan Jokowi, karena pemilih Jokowi ini kunci untuk bisa membatalkan kemenangan beliau [Jokowi] adalah golput itu sendiri," ujar Hadi.

Menilik data Komisi Pemilihan Umum (KPU), angka golput memiliki tren yang selalu meningkat setiap masa pemilihan umum, khususnya pemilihan presiden. Sejak pertama kali pilpres secara langsung tahun 2004, angka golput sebesar 21,8%. Masih di tahun yang sama, pada putaran ke-2 Pilpres 2004, golput kian meningkat menjadi 23,4%.

Lima tahun lalu, angka golput mencapai 29,01%. Dengan berbagai faktor, absennya partisipasi pemilih dalam ajang pilpres bisa menjadi momok bagi kedua pasangan calon khususnya pada 2019.

Potensi tingginya golput juga terjadi pada kalangan milenial –yang menjadi perebutan—kedua pasangan calon. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Jeune & Raccord Communication, potensi milenial yang memutuskan golput mencapai 40%. Apatis dan kurangnya informasi menjadi faktor utama yang mendorong mereka untuk menjadi golput.

Di sisi lain, dalam survei terakhir Indikator Politik, angka swing voters masih sekitar 16,9% sedangkan undecided voters sekitar 7,2%. Pemilih solid atau strong voters bagi masing-masing pasangan adalah 46,6% untuk pasangan 01, sementara untuk 02 sebesar 29,2%.

Dengan kondisi strong voters di bawah 50%, posisi petahana masih belum bisa dikatakan aman. Peralihan suara dan potensi hasil akhir yang berubah masih mungkin terjadi.

***

Nazmi Haddyat Tamara | Data Journalist - katadata.co.id