Bank Permata Terbebani Kredit Macet Garansindo Rp 1,2 Triliun

Penulis: Martha Ruth Thertina dan Desy Setyowati

Editor: Yura Syahrul

25/3/2017, 14.55 WIB

Garansindo adalah importir dan agen pemegang merek kendaraan mewah asal Eropa dan Amerika Serikat. Bertabur nama mantan menteri, politisi, dan purnawirawan jenderal.

Bank permata
Katadata | Arief Kamaludin

PT Bank Permata Tbk tengah berupaya merestrukturisasi tumpukan kredit bermasalah untuk memperbaiki kinerja keuangannya yang terpuruk tahun lalu. Ditengarai, salah satunya adalah kredit macet Grup Garansindo senilai lebih Rp 1 triliun.

Sumber Katadata di perbankan menyatakan, nilai kredit macet Grup Garansindo di Bank Permata mencapai Rp 1,24 triliun. Kredit itu dikucurkan sekitar empat tahun lalu. “Debitor kredit macet terbesar Bank Permata adalah Garansindo yang macet sejak tahun lalu,” katanya beberapa hari lalu.


Sedangkan sumber lain mengungkapkan, upaya penagihan atas kredit macet itu dilakukan Bank Permata secara gencar. Proses negosiasi dengan Garansindo juga kerap dilakukan. Namun, hingga kini, upaya-upaya itu belum membuahkan hasil. “Bank sudah capek menagihnya,” ujarnya, namun tak mau disebutkan identitasnya.

(Baca juga: Tertekan Kredit Bermasalah, Laba Bank-Bank Besar Anjlok)

Kredit macet ini langsung memukul kinerja keuangan Bank Permata. Rasio kredit seret atau Non Performing Loan (NPL) bank swasta milik Grup Astra dan Standard Chartered Bank ini langsung melejit menjadi 8,8 persen per akhir 2016, dari cuma 2,7 persen pada 2015. Adapun rasio NPL-netto tahun lalu sebesar 2,2 persen.

Alhasil, Permata harus meningkatkan rasio pencadangan NPL dari 97 persen pada Desember 2015 menjadi 122 persen dengan nilai Rp 12,21 triliun di akhir 2016. Imbasnya, bank ini menderita rugi bersih Rp 6,48 triliun tahun lalu, yang tercatat merupakan kerugian terbesar perbankan di Indonesia.

Manajemen Garansindo masih bungkam perihal kabar kredit macetnya di Bank Permata. Managing Director Garansindo, Dhani Yahya, mengaku tidak berwenang menjelaskan persoalan tersebut.

“Tidak bisa komen (komentar) di luar kewenangan saya. Tidak bisa memberi statement (pernyataan) mengenai kredit,” katanya, pekan lalu.

Ia pun meminta Katadata mengirimkan pertanyaaan via surat elektronik untuk diteruskan kepada pejabat yang berwenang. Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada balasan dari Garansindo.

Deretan nama mentereng

Dalam situs resminya, Garansindo yang berdiri pada 2001 ini bergerak di sektor otomotif. Di kalangan pelaku industri otomotif, perusahaan ini dikenal sebagai importir dan agen pemegang merek (APM) mobil dan motor kelas atas asal Eropa dan Amerika Serikat. Beberapa di antaranya, yaitu Fiat, Alfa Romeo, Chrysler, Jeep, dan Dodge. Selain itu, kendaraan roda dua Ducati, Italjet, dan Peugeot Scooters.

Perusahaan ini diketahui membentuk perusahaan induk yaitu Garansindo Global Corpora dua tahun lalu. Perusahaan induk ini menaungi antara lain PT Garansindo Inter Global, PT Plaza Garansindo dan PT Garansindo Automobile.

Pada medio 2015, seperti dikutip dari detikoto.com, beberapa nama mentereng menghiasi jajaran komisaris Garansindo Global Corpora. Mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris menjadi Komisaris Utama, Ketua Umum Partai Hanura dan saat ini Menko Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menjabat Wakil Komisaris Utama.

Ada pula mantan jenderal polisi Anton Bachrul Alam dan mantan pejabat Kementerian Perindustrian sebagai komisaris perusahaan tersebut.

(Baca juga: Bank BUMN Hapus Buku Kredit Macet Rp 24,8 Triliun, Melejit 41 Persen).

Ketika ditanyakan soal ini, manajemen Bank Permata tidak bersedia menjelaskan perkembangan atas penanganan kredit macet Garansindo. “Kami tidak dapat memberi informasi lebih lanjut saat ini, karena terikat kerahasiaan nasabah seperti layaknya transaksi dan proses antarnasabah dan Bank,” kata Head Corporate Affairs Bank Permata Richele Maramis melalui surat elektronik kepada Katadata, Jumat (24/3).

Ia hanya menekankan bahwa bank terus melakukan sejumlah langkah strategis untuk mengelola kualitas asetnya. Langkah yang dimaksud, antara lain melakukan restrukturisasi dan rehabilitasi kredit bermasalah. Selain itu, bank melakukan proses likuidasi dan tindakan hukum terhadap sebagian kredit bermasalah itu.

Richele mengklaim, langkah-langkah tersebut mulai menuai hasil positif. Buktinya,  laba bersih Bank Permata setelah pajak hingga Februari lalu mencapai Rp 214 miliar.

Meski begitu, berdasarkan informasi yang diperoleh Katadata, persoalan kredit macet Garansindo dan memburuknya kinerja Bank Permata sempat mendapat perhatian khusus dari Otoritas Jasa Keuangan. “OJK secara berkala meminta laporan penanganan persoalan ini dari pihak bank dan menyusun contingency plan,” katanya.

Ketua OJK Muliaman Hadad enggan mengomentari masalah penanganan kredit macet di Bank Permata secara spesifik, khususnya kredit macet Garansindo. “Kalau per individu, saya tidak tahu,” katanya, Rabu (22/3) lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha