Ujicoba LRT Dimulai, Ini Beda LRT, MRT, dan KRL

Penulis: Hari Widowati

12/6/2019, 13.14 WIB

LRT dibangun untuk menggantikan monorel yang mangkrak. Adapun MRT memiliki kecepatan paling tinggi dibandingkan LRT dan KRL, yakni 100 km per jam.

Masyarakat bersiap mencoba kereta Light Rail Transit (LRT) saat uji publik di Stasiun Boulevard Utara, Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (11/6/2019).
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto
Masyarakat bersiap mencoba kereta Light Rail Transit (LRT) saat uji publik di Stasiun Boulevard Utara, Kelapa Gading, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

Masyarakat Jakarta memiliki moda transportasi baru, yakni Lintas Raya Terpadu (LRT) atau yang sebelumnya dikenal sebagai light rail transit. Moda transportasi modern ini mulai diujicoba keandalannya. Masyarakat bisa mendaftar di www.lrtjakarta.co.id untuk mengikuti ujicoba LRT Jakarta pada 11-21 Juni 2019. LRT Jakarta akan dioperasikan mulai pukul 05.30 hingga 23.00 WIB.

Sebenarnya, apa perbedaan antara LRT dengan Moda Raya Terpadu (MRT) dan Kereta Rel Listrik (KRL)? Mari kita bedah satu persatu.


1. Lintas Raya Terpadu (LRT)

Gagasan mengenai LRT Jakarta muncul setelah Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta saat itu, melihat proyek Monorel Jakarta tersendat pembangunannya. Pasalnya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menolak pembangunan depo di atas Waduk Setiabudi, Jakarta Selatan. Jika depo Monorel dibangun di atas waduk tersebut, peristiwa jebolnya tanggul Latuharhari pada 2013 dikhawatirkan terulang kembali.

Basuki lebih memilih LRT karena hasil studi menunjukkan moda transportasi ini lebih mudah dibangun dan bisa diintegrasikan dengan moda transportasi lainnya, seperti MRT dan KRL. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi penggagas pembangunan LRT Jakarta (dalam kota). Adapun LRT yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota disekitarnya atau LRT Jabodebek diprakarsai oleh PT Adhi Karya Tbk.

Adhi Karya sebagai kontraktor proyek LRT akan membangun enam rute, yakni Cawang-Harjamukti, Cawang-Kuningan-Dukuh Atas, Cawang-Jatimulya, Dukuh Atas-Palmerah Senayan, Harjamukti-Bogor, dan Palmerah-Grogol/Bogor. Panjang jalur LRT yang direncanakan adalah 130,4 km. Jalur kereta yang semula menggunakan kereta narrow gauge selebar 1.067 mm diubah menjadi kereta standar selebar 1.435 mm sesuai standar LRT yang beroperasi di dunia.

Presiden Joko Widodo pada 2 September 2015 menerbitkan dua Peraturan Presiden (Perpres) untuk mempercepat pembangunan LRT. Perpres Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan (LRT) Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Adapun Perpres Nomor 99 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Perkeretaapian Umum di Wilayah Provinsi DKI Jakarta.

Perpres tersebut mengatur penunjukan Adhi Karya dalam pembangunan prasarana konstruksi jalur layang, stasiun, dan fasilitas lainnya. Selain itu, Perpres mendasari pembentukan badan penyelenggara transportasi Jabodebek dan penunjukan BUMD DKI agar LRT dari luar Jakarta bisa masuk ke wilayah Jakarta. BUMD yang dimaksud adalah PT Jakarta Propertindo (Jakpro) yang menjadi induk dari PT LRT Jakarta.

(Baca: Mulai Selasa 11 Juni, LRT Jakarta Akan Layani Uji Coba Publik Gratis)

Pembangunan proyek LRT ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) oleh Presiden Joko Widodo pada 9 September 2015. Pembangunan LRT Jabodebek diperkirakan membutuhkan biaya Rp 20,75 triliun. Rinciannya: biaya pembangunan jalur LRT Rp 10,48 triliun, fasilitas operasi dan trackwork Rp 6,56 triliun, serta stasiun, depo, dan pusat kontrol operasional (OCC) Rp 3,71 triliun.

Menurut keterangan tertulis dari Jakpro, jalur LRT yang telah dibangun adalah koridor Kelapa Gading-Velodrome sepanjang 5,8 km berupa struktur layang. Di koridor ini, tarif yang dikenakan kepada penumpang adalah Rp 5.000.

Direktur PT Jakpro Satya Heragandhi mengatakan, kereta LRT yang digunakan LRT Jakarta merupakan produk dari Hyundai Roterm, Korea Selatan. Pasalnya, kereta tersebut dinilai memiliki kemampuan yang andal dan bisa diproduksi dengan cepat. Apalagi pemesanan kereta LRT dalam satu kali produksi mencapai 16 kereta sehingga tidak mampu dipenuhi produsen dalam negeri.

LRT Jakarta beroperasi dengan rel listrik berdaya 750 volt DC, sebagaimana kereta Amsterdam Metro di Belanda. Setiap set kereta mampu mengangkut 278 orang penumpang sekali jalan. Kecepatan maksimal LRT Jakarta diperkirakan mencapai 70-80 km per jam.

(Baca: Menjajal LRT, Transportasi Baru Modern Jakarta dengan Tarif Rp 5.000)

2. Moda Raya Terpadu (MRT)

Mass Rapid Transit atau Moda Raya Terpadu (MRT) merupakan transportasi modern di Jakarta yang diresmikan Presiden Jokowi pada 24 Maret lalu. Operator moda transportasi ini adalah PT MRT Jakarta.

Kebutuhan terhadap sistem transportasi massal seperti MRT telah digagas sejak 1980-an. Keberadaan MRT dinilai menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan akibat pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jalan raya. Di beberapa negara, MRT dikenal dengan nama subway (kereta bawah tanah) karena jalurnya melewati terowongan yang dibangun di bawah tanah.

Pembangunan MRT dimulai pada 10 Oktober 2013. Pada tahap I, koridor yang dibangun adalah Lebak Bulus-Bundaran HI sepanjang 16 km, terdiri atas 10 km jalur layang dan 6 km jalur bawah tanah.

Konstruksi MRT koridor 1 terbagi dalam enam paket kontrak yang dikerjakan oleh konsorsium. Area Depo dan Stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, serta Cipete Raya dikerjakan oleh Tokyu-PT Wijaya Karya Joint Operation. Area Haji Nawi, Blok A, Blok M, dan Sisingamangaraja dibangun oleh Obayashi, Shimizu, dan Jaya Konstruksi. Area Senayan, Istora, Bendungan Hilir, dan Setiabudi dibangun oleh Shimizu, Obayashi, Wijaya Karya, dan Jaya Konstruksi.

Area Dukuh Atas dan Bundaran HI dibangun oleh konsorsium Sumitomo, Mitsui, dan Hutama Karya. Sistem perkeretaapian (railway system) dan pekerjaan rel (trackwork) dilakukan oleh Metro One Consortium (MOC) yaitu Mitsui & Co., Tokyo Engineering Corporation, Kobe Steel Ltd, dan Inti Karya Persada Tehnik. Adapun pembangunan rolling stock oleh Sumitomo Corporation.

Pembangunan MRT tahap I menghabiskan dana Rp 16 triliun dengan pinjaman lunak dari JICA berjangka waktu 30 tahun dan masa tenggang 10 tahun. Bunga yang dikenakan sebesar 0,25% per tahun.

Jalur MRT Jakarta rencananya akan mencapai 110,8 km, terdiri atas Koridor Selatan-Utara (Lebak Bulus-Kampung Bandan) sepanjang 23,8 km dan Koridor Timur-Barat sepanjang 87 km. Saat ini MRT Jakarta memiliki 16 rangkaian kereta di Depo Lebak Bulus. Satu rangkaian terdiri atas enam unit sehingga total ada 96 unit kereta. Satu gerbong MRT mampu mengangkut 1.950 orang penumpang pada saat jam sibuk.

MRT menggunakan kereta dengan lebar 1.067 mm atau lebih sempit dibandingkan kereta standar. Rangkaian kereta MRT dijalankan dengan daya listrik 1.500 volt DC. Kecepatan maksimal MRT bisa mencapai 100 km per jam.

Saat ini, rata-rata jumlah penumpang yang diangkut MRT mencapai 82 ribu penumpang per hari. Pada 2020, target penumpang MRT Jakarta mencapai 91 ribu penumpang per hari. Harga tiket MRT Jakarta mulai dari Rp 3.000 untuk rute terdekat dan Rp 14.000 untuk rute terjauh (Lebak Bulus-Bundaran HI).

(Baca: Anies Harap MRT Jakarta Mendorong Makin Banyak Pertemuan ASEAN)

3. Kereta Rel Listrik

Kereta rel listrik merupakan moda transportasi yang sudah lama ada di Indonesia. Pada era Hindia Belanda, KRL digunakan untuk menghubungkan Batavia dengan Meester Cornelis (Jatinegara) pada 1925. Rangkaian kereta waktu itu hanya dua atau empat kereta yang dibuat oleh Wekspoor dan Heemaf Hengelo.

KRL disetop penggunaannya pada 1960-an karena kondisi mesin lokomotif dan kereta yang sudah tua. Mulai 1976, Perusahaan Jawatan Kereta Api (sekarang PT Kereta Api Indonesia) mendatangkan KRL dari Jepang. Sebagian merupakan hibah dari Pemerintah Kota Tokyo, ada juga kereta bekas yang dibeli oleh PJKA.

Pada awal masa beroperasinya, KRL belum sebagus sekarang. Dahulu, para pedagang dan pengamen pun bisa masuk ke gerbong penumpang. Penumpang yang ingin menggunakan moda transportasi ini membeludak, hingga duduk di atas atap kereta. Alhasil, sering terjadi penumpang yang meninggal atau jatuh dan terluka karena tersengat listrik akibat nekat menumpang di atap kereta.

 

Sejak 2011 hingga akhir 2012, PT KAI menertibkan para penumpang di atap KRL. Upaya ini tidak mudah, kerap kali para petugas dilempari dengan botol dan kaleng atau benda lainnya ketika menertibkan para penumpang.

Mulai 25 Juli 2013, PT KAI mengganti seluruh rangkaian KRL Ekonomi dengan KRL berpendingin udara (AC). KRL juga menggunakan sistem e-ticketing (tiket elektronik) dan tarif progresif. Tujuannya, menjadikan KRL sebagai moda transportasi yang andal sekaligus nyaman.

Saat ini KRL melayani beberapa jalur, seperti Jakarta Kota ke Bekasi, Cikarang, Depok, dan Bogor. Selain itu ada jalur Tanah Abang ke Serpong, Maja, hingga Rangkasbitung. Ada juga jalur Tanah Abang ke Depok, Bogor, Jatinegara, dan Kampung Bandan.

Rata-rata jumlah penumpang yang diangkut dengan KRL mencapai lebih dari 1 juta penumpang. Pada 2020, KRL ditargetkan dapat mengangkut 2 juta penumpang per hari. Saat ini PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) sebagai operator KRL Jabodetabek memiliki 900 unit KRL.

(Baca: Penumpang KRL Turun 300 Ribu Orang Saat Aksi Massa 21-22 Mei)


Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha