Aksi Massa 22 Mei Berujung Ricuh yang Menyulut Masalah Ekonomi

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Safrezi Fitra

23/5/2019, 06.00 WIB

Bentrok massa dan aparat keamanan yang terjadi sejak Selasa (21/5), telah membuat sebagian aktivitas ekonomi di Jakarta lumpuh.

Telaah - Kerusuhan
Adrian Hillman/123rf

Aksi rusuh massa sejak Selasa malam (21/5) telah memunculkan kekhawatiran masyarakat. Pembubaran para pendemo di depan kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) oleh aparat keamanan berujung bentrok, meluas ke wilayah lain hingga keesokan harinya. Dampaknya, aktivitas perekonomian di daerah sekitar kejadian lumpuh, hingga menyebar ke beberapa daerah di Jakarta.

Hatma, seorang pengusaha, merasa was-was mengingat keributan di beberapa titik Jakarta masih terjadi pada Rabu (22/5). Dia khawatir kejadian ini mengganggu usaha dan keamanan keluarganya. Meski demikian, warga Grogol, Jakarta Barat ini belum berniat pergi dari Jakarta. Opsi keluar dari Ibu kota diambil apabila mulai ada aksi penjarahan, seperti yang terjadi pada 1998. "Mudah-mudahan nggak terjadi," kata Hatma kepada Katadata.co.id.


(Baca: Kedutaan AS, Rusia hingga Malaysia Beri Peringatan Terkait 22 Mei)

Bentrok antara aparat dan massa aksi membuat akses transportasi terbatas. Banyak jalan ditutup. Bahkan, PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memberlakukan rekayasa operasi KRL dengan menutup beberapa stasiun. Hal ini mengingat kerusuhan masih terjadi dan situasi di sekitar stasiun, seperti Tanah Abang, belum kondusif.

Vice President Corporate Communication KCI Anne Purba mengatakan, KRL dari arah Stasiun Rangkas Bitung, Maja, Parung Panjang, Serpong untuk sementara tidak melayani naik-turun penumpang di Stasiun Palmerah dan Stasiun Tanah Abang. Sementara KRL loop line relasi Bogor, Depok, Nambo hingga Duri maupun Jatinegara hanya beroperasi sampai Stasiun Manggarai. "Langkah ini juga diambil karena KCI mengutamakan keselamatan para pengguna KRL," katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (22/5).

Karenanya, KCI menyarankan  pengguna dari arah Rangkas Bitung, Maja, Parung Panjang atau Serpong untuk mencari alternatif lain untuk turun, selain Palmerah maupun Tanah Abang. Sementara penumpang ke Stasiun Sudirman, Karet, Tanah Abang, Angke, Kampung Bandan hingga Jatinegara diimbau untuk menggunakan moda transportasi alternatif lain.

Kantor-kantor yang berada di sekitar kawasan Thamrin dan daerah-daerah yang terdampak banyak meliburkan karyawannya pada Rabu (22/5). Aktivitas pusat perbelanjaan seputar kawasan jalan M.H Thamrin, Jakarta Pusat terhenti sementara. (Baca: Kerusuhan 22 Mei, Aktivitas Pusat Belanja kawasan Thamrin Terhenti)

Direktur Relation and Corporate Communication PT Mitra Adiperkasa Tbk. Fetty Kwartati mengatakan perusahaannya menutup beberapa gerai retail yang berlokasi di Djakarta Theater, Grand Indonesia, dan Plaza Indonesia. "Untuk antisipasi masalah keamanan," katanya.

Pertokoan di pusat perbelanjaan Sarinah yang berseberangan dengan gedung Bawaslu pun tutup. Salah satu pegawai pertokoan di Sarinah mengaku khawatir aksi masa yang rusuh sejak malam hingga dini hari bisa berujung pada penjarahan.  

Presiden Direktur Sarinah Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa belum bisa menghitung jumlah kerugian akibat penutupan pusat perbelanjaan Sarinah di saat momen menjelang lebaran saat ini. "Rata-rata omzet mencapai Rp 400-500 juta dalam kondisi hari biasa," ujarnya.

Para pedagang di Pasar Tanah Abang pun tidak berani berjualan. Pasar grosir tekstil yang merupakan salah satu pasar terbesar di Asia ini pun lumpuh dalam satu hari.  Perumda Pasar Jaya mencatat ada sekitar 14 ribu pedagang di Pasar Tanah Abang mulai dari Blok A hingga Blok G.

Tanpa adanya transaksi jual beli di pasar tersebut, dan para pedagang pun kehilangan potensi pendapatannya. Pada hari biasa, total pendapatan di Pasar Tanah Abang mencapai Rp 200 juta. “Sedangkan untuk peak season seperti saat menjelang Lebaran seperti sekarang, perputaran uang di kawasan tersebut umumnya meningkat 20-30 persen,” kata Direktur Utama Pasar Jaya Arief Nasrudin.

Demo Bawaslu
Demo Bawaslu (Ajeng Dinar Ulfiana I KATADATA)

 

Peneliti INDEF Bhima Yudhistira mengatakan dampak terbesar akan dirasakan akibat kejadian ini adalah sektor retail. Apalagi, masyarakat akan berbelanja kebutuhan untuk lebaran. Salah satu pasar yang terdampak langsung aksi massa adalah Tanah Abang, Jakarta Pusat.  "Itu efeknya cukup signifikan," kata dia.

(Baca: Antisipasi Kerusuhan 22 Mei, Starbucks-Planet Sports Tutup Sementara)

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey mengatakan, tidak kondusifnya situasi di sebagian wilayah Ibu Kota menyebabkan pengamanan di sejumlah titik diperketat. Tak terkecuali di sejumlah pertokoan yang dekat dengan lokasi aksi massa.

"Ada peningkatan security internal karena melihat fakor lingkungan, seperti di Thamrin, di situ terjadi peningkatan eskalasi pengamanan," kata Roy. Namun, retail modern di beberapa lokasi lain yang dirasa masih aman, tetap beraktivitas seperti biasa.

Dampak ekonomi bukan hanya terjadi pada lumpuhnya kegiatan perkantoran, pertokoan dan transportasi. Bhima mengatakan risiko politik yang meningkat akan membuat persepsi investor ke Indonesia akan menurun. Ini juga terlihat dari pelemahan pada kurs rupiah hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Diperkirakan rupiah melemah ke rentang Rp 14.500 hingga Rp 14.590 per dolar AS," kata dia. Adapun IHSG diprediksi menurun ke level 5.850 sampai 5.940 hingga penutupan pekan ini.

 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap kerusuhan aksi massa 22 Mei tidak mengganggu kegiatan perekonomian. Karena itu, dia ingin agar aksi massa tersebut dapat segera diatasi. "Kami berharap ini tidak akan lama, segera bisa diatasi sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun ekonomi," ujarnya.

Untuk mengantisipasi kerusuhan agar tidak membesar dan bertambah panjang, pemerintah mengambil beberapa langkah. Salah satunya membatasi akses media sosial untuk meredam hoaks alias berita bohong. Ini dilakukan agar masyarakat tak terpancing emosinya dari kiriman gambar hingga video yang dapat menyulut kerusuhan lebih luas. 

"Untuk menghindari provokasi, berita bohong kepada masyarakat luas, akan kami adakan pembatasan akses di media sosial. Fitur tertentu untuk tidak diaktifkan,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto.

(Baca: Bendung Hoaks Kerusuhan 22 Mei, Pemerintah Batasi Akses Media Sosial)

Kronologi Aksi di Bawaslu yang Berujung Rusuh

Kerusuhan bermula dari aksi damai yang dilakukan masa pendukung pasangan peserta Pilpres 2019, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Mereka menduga ada kecurangan dalam Pilpres 2019 dan menuntut Bawaslu segera menindak. Aksi dilakukan sejak pagi hingga malam. Mereka pun melakukan tarawih bersama di jalanan depan Gedung Bawaslu.

Sebenarnya, waktu yang diperbolehkan untuk melakukan unjuk rasa hanya sampai jam enam sore. Namun, aparat keamanan memberikan waktu hingga mereka selesai tarawih. Masalahnya, sebagian massa yang enggan dibubarkan setelah waktu yang diberikan habis.

Massa yang kebanyakan berusia muda ini lantas melawan dan aparat memukul mundur mereka hingga ke Jalan Agus Salim (Sabang) dan Pasar Tanah Abang, menjelang sahur. Perlawanan mereka terus berlanjut, hingga matahari sudah terbit pun bentrokan masih terjadi di Jatibaru, Petamburan, hingga Slipi.

(Baca: Ini Tokoh dan Organisasi di Pusaran Rencana Aksi 22 Mei 2019)

Kendaraan yang terparkir di depan asrama Brigade Mobil di Petamburan, Jakarta Pusat sempat dibakar oleh massa. Mengenai hal ini, Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian menyebut massa yang mengacau keamanan berbeda dengan yang berdemonstrasi di depan Bawaslu.

"Pukul 22.00 atau 23.00 WIB datang sekelompok anak muda 300 hingga 400 orang datang ke Bawaslu dari Tanah Abang dan melempari anggota," kata Tito. Kepolisian pun menangkap orang-orang yang diduga sebagai provokator aksi. Totalnya mencapai 257 orang yang ditangkap di depan Bawaslu, Sabang, Tanah Abang, dan Petamburan.

21 Mei pukul 18.00 WIB

Demonstran berbuka puasa dilanjutkan ibadah Maghrib, Isya, dan Tarawih di depan Bawaslu.

21 Mei pukul 21.00 WIB

Aparat meminta demonstran bubar yang disambut dengan positif.

21 Mei pukul 23.00 WIB

Massa hadir dari Jalan Agus Salim (Sabang) dan Wahid Hasyim serta memprovokasi aparat. Massa juga merusak security barrier. Arahan polisi untuk bubar disambut lemparan Molotov.

22 Mei pukul 03.00 WIB

Polisi bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) mendorong massa hingga jalan Sabang serta Pasar Tanah Abang. Di saat bersamaan ratusan massa berkumpul di Jalan K.S. Tubun, Petamburan.

22 Mei pukul 05.00 WIB

Kendaraan yang berada di asrama Brimob, Petamburan dibakar Massa.

 

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengaku telah mengetahui siapa dalang di balik kerusuhan ini. Namun, dia belum mau memberitahukan siapa pihak yang bertanggung jawab itu. Dia hanya menyebutkan pelakunya adalah preman yang dibayar, dengan bukti uang senilai Rp 6 juta yang diamankan. "Uang tersebut terpisah-pisah," katanya.

(Baca: Ma'ruf Amin Minta Elite Politik Tidak Hasut Rakyat Turun ke Jalan)

Hingga jelang malam ini, aparat masih berhadapan dengan massa di wilayah Slipi, Jakarta Barat. Di saat yang sama, demonstrasi damai yang digelar di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) malah memanas dan sempat terjadi aksi pembakaran.

Hingga saat ini tercatat enam korban meninggal dunia dan ratusan luka-luka dalam bentrok masa dan aparat sejak Selasa malam. "Korban meninggal, dua orang di Rumah Sakit Tarakan, kemudian (satu) di RS Pelni, RS Budi Kemuliaan, RSCM, dan RS AL Mintohardjo," kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha